Selasa, 17 Januari 2017

solusi untuk siswa yang suka membolos

Tips Mengatasi Anak yang Suka Bolos Sekolah
Perilaku membolos saat tengah marak terjadi dikalangan pelajar mulai dari sekolah dasar hingga tingkat menengah atas seringkali ditemukan kasus dimana satu atau lebih dari siswanya seringkali tidak hadir saat waktu belajar mengajar tiba. Mirisnya, bukan hanya siswa putera yang berani melakukan hal ini, namun juga hal yang sama juga dilakukan oleh siswa puteri. Ada yang melakukannya secara pribadi dan adapula yang berkelompok.
Bila kebiasaan bolos terus menerus terjadi tentu akan sangat merugikan siswa itu sendiri. Bukan hanya sistem pembelajaran yang ia lewatkan, sikap kedisplinan pada anak dan sekolah itu sendiripun juga akan menurun. Berbagai alasanpun dituai, ada banyak alasan yang melatarbelakangi seorang anak melakukan bolos masuk sekolah mulai dari tidak menyukai guru pada mata pelajaran yang diajarkan, tidak adanya minat pada pelajaran yang diajarkan hingga dengan jenuh terhadap sistem pembelajaran.
Untuk menangani anak yang sering membolos masuk sekolah, biasanya sekolahpun menyediakan pendidik untuk menangani masalah semacam ini, yakni bimbingan konseling yang disediakan oleh sekolah. Bimbingan konseling dinilai manjadi salah satu cara terbaik dalam menghadapi siswa yang sering membolos. Bimbingan konseling juga disebut cukup efisien dalam mengatasi masalah siswa seperti ini.
Namun, selain bimbingan dari sekolah pembimbing paling nyata untuk mengatasi masalah semacam ini adalah rumah, yakni dilakukan oleh orangtuanya. Dalam hal ini, peran orangtua amat dibutuhkan, sebab waktu yang dihabiskan oleh anak umumnya lebih banyak dihabiskan dirumah dibandingkan dengan sekolah, sehingga orangtuapun ikut bertanggung jawab dalam mendidik anak, termasuk menangani anak yang sering bolos sekolah.
Nah, untuk membantu ibu menghadapi anak yang sering bolos agar dapat kembali bersekolah seperti biasa, simak berikut ini.
Sumber:http://bidanku.com/tips-mengatasi-anak-yang-suka-bolos-sekolah

faktor ketidak hadiran siswa

Tentang Kehadiran dan Ketidakhadiran Siswa di Sekolah

Kehadiran siswa di sekolah (school attandence) adalah kehadiran dan keikutsertaan siswa secara fisik dan mental terhadap aktivitas sekolah pada jam-jam efektif di sekolah. Sedangkan ketidakhadiran adalah ketiadaan partisipasi secara fisik siswa terhadap kegiatan-kegiatan sekolah. Pada jam-jam efektif sekolah, siswa memang harus berada di sekolah. Kalau tidak ada di sekolah, seyogyanya dapat memberikan keterangan yang sah serta diketahui oleh orang tua atau walinya.
Carter V. Good (1981) memberi batasan kehadiran sebagai berikut: “The act of being present, particulary at school,  …attendance at school as not merely being bodily presence but including actual participation in the work and activities …”.
Pengertian kehadiran seperti yang dikemukakan di atas seringkali dipertanyakan, terutama pada saat teknologi pendidikan dan pengajaran telah berkembang pesat seperti sekarang ini. Kalau misalnya saja, aktivitas-aktivitas sekolah dapat dipancarkan melalui TV dan bisa sampai ke rumah, apakah kehadiran siswa secara fisik di sekolah masih dipandang mutlak? Jika pendidikan atau pengajaran dipandang sebagai sekedar penyampaian pengetahuan, sedangkan para siswa dapat menyerap pesan-pesan pendidikan melalui layar kacanya di rumah, ketidakhadiran siswa di sekolah secara fisik mungkin tidak menjadi persoalan.
Sebaliknya, jika pendidikan bukan sekadar penyerapan ilmu pengetahuan, melainkan lebih jauh membutuhkan keterlibatan aktif secara fisik dan mental dalam prosesnya, maka kehadiran secara fisik di sekolah tetap penting apapun alasannya, dan bagaimanapun canggihnya teknologi yang dipergunakan. Pendidikan telah lama dipandang sebagai suatu aktivitas yang harus melibatkan siswa secara aktif, dan tidak sekedar sebagai penyampaian informasi belaka.
Siswa yang hadir di sekolah hendaknya dicatat oleh guru dalam buku presensi. Sementara siswa yang tidak hadir di sekolah dicatat dalam buku absensi. Dengan perkataan lain, presensi adalah daftar kehadiran siswa, sementara absensi adalah buku daftar ketidakhadiran siswa.
Begitu jam pertama dinyatakan masuk, serta para siswa masuk ke kelas, guru mempresensi siswanya satu persatu. Selain agar mengenali satu persatu siswanya yang masuk sekolah dan yang tidak masuk sekolah. Demikian juga pada jam-jam berikutnya setelah istirahat, guru perlu mempresensi kembali, barangkali ada siswanya yang pulang sebelum waktunya. Tidak jarang, siswa pulang sebelum waktunya, hanya karena sudah dinyatakan masuk melalui presensi pada jam pertama.
Pada umumnya ketidakhadiran siswa dapat dibagi kedalam tiga bagian: (1) alpa, yaitu ketidakhadiran tanpa keterangan yang jelas,  dengan alasan yang  tidak bisa dipertanggungjawabkan; (2) ijin, ketidakhadiran dengan keterangan dan  alasan tertentu yang  bisa dipertanggungjawabkan, biasanya  disertai surat pemberitahuan dari orang tua; dan   (3) sakit, ketidakhadiran dengan alasan gangguan kesehatan, biasanya  disertai surat pemberitahuan dari orang tua atau surat keterangan sakit dari dokter.
Secara administratif,  pengelolaan kehadiran dan ketidakhadiran siswa pada tingkat kelas menjadi tanggung jawab wali kelas.  Oleh karena itu, wali kelas seyogyanya dapat mendata secara akurat  tingkat kehadiran dan ketidakhadiran siswa di kelas yang menjadi tanggung jawabnya sekaligus dapat menganalisis dan menyajikannya dalam bentuk grafik atau tabel (diusahakan tersedia catatan harian dan tabel/grafik bulanan).
Sementara untuk tingkat sekolah, petugas yang tepat mengelola kehadiran dan ketidakhadiran siswa adalah wakasek kesiswaan. Sama halnya dengan wali kelas,  wakasek kesiswaan pun seyogyanya dapat mendata secara akurat  tingkat kehadiran dan ketidakhadiran siswa secara keseluruhan serta dapat menganalisis dan menyajikannya dalam  bentuk grafik/tabel.
Informasi tingkat kehadiran dan ketidakhadiran siswa ini sangat berguna untuk pengambilan kebijakan, baik pada tingkat kelas  maupun sekolah serta dapat digunakan untuk kepentingan pemberian bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam menunaikan kewajiban kehadirannya di sekolah.
Rekapitulasi data ketidakhadiran siswa secara perorangan, –baik karena alasan alpa, sakit maupun ijin,– seyogyanya  disampaikan kepada orang tua,  minimal  dilakukan setiap bulan. Hal ini penting dilakukan agar orang tua dapat mengetahuinya dan dapat mengambil peran dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah ketidakhadiran anaknya.
Bagi sekolah yang sudah memiliki website sendiri, penyajian rekapitulasi data bulanan kehadiran dan ketidakhadiran siswa dalam website sekolah (dengan tetap menjaga hak privacy  siswa) mungkin akan sangat bermanfaat.  Selain sebagai bentuk laporan terbuka tentang progress sekolah,  mungkin juga dapat memotivasi siswa dan pihak-pihak lain yang terkait untuk lebih memelihara dan meningkatkan  kehadiran siswa di sekolah.
Hal lain yang tak kalah penting dalam pengelolaan kehadiran siswa ini  adalah perlunya aturan ketidakhadiran yang  tegas dan jelas, disertai dengan sanksi yang mendidik (khususnya bagi siswa yang kerap alpa) . Kendati demikiantidak diharapkan adanya bentuk  sanksi  yang secara eksplisit menyatakan bahwa siswa yang sering tidak hadir wajib menghadap guru BK/Konselor. Jika hal ini terjadi maka secara langsung ataupun tidak langsung, Bimbingan dan Konseling akan dipersepsi siswa sebagai “satpam-nya sekolah”, yang tentunya tidak akan menguntungkan bagi pengembangan layanan BK  sebagai lembaga pelayanan bantuan psikologis di sekolah.
Dalam konteks pembimbingan atau bimbingan dan konseling, ketidakhadiran siswa hendaknya dipandang sebagai sebuah GEJALA dari INTI  MASALAH yang sesungguhnya.  Oleh karena itu, dalam upaya membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam kehadirannya di sekolah, maka guru atau konselor seyogyanya dapat memahami  latar belakang dan faktor-faktor penyebab ketidakhadirannya, untuk menemukan inti masalah yang sebenarnya. Dengan demikian,  upaya pengentasan ketidakhadiran siswa ini tidak terjebak pada penyelesaian yang bersifat simptomik.
Ada banyak sumber penyebab ketidakhadiran siswa di sekolah, baik yang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri (faktor internal), –misalnya karena disiplin diri  dan motivasi belajar yang  rendah- maupun  dari luar diri  siswa (faktor eksternal), –misalnya lingkungan sekolah dan pergaulan yang kurang kondusif. Lingkungan keluarga merupakan salah satu faktor eksternal yang mungkin bisa menyebabkan ketidakhadiran siswa di sekolah. Di bawah ini disajikan beberapa kemungkinan ketidakhadiran siswa yang disebabkan atau bersumber dari keluarga:
  1. Kedua orang tuanya baik ayah maupun ibu, bekerja. Hal demikian bisa terjadi, mengingat disamping siswa tersebut tidak mendapatkan pengawasan keluarga, juga bisa jadi yang bersangkutan memang disuruh menjaga rumah oleh kedua orang tuanya.
  2. Ada kegiatan keagamaan di rumah. Kegiatan keagamaan demikian, terutama pada masyarakat yang religius, bisa menjadikan sebab siswa tidak hadir di sekolah.
  3. Ada persoalan di lingkungan keluarga. Meskipun masalah tersebut tidak bersangkut paut dengan siswa, umumnya juga mempengaruhi jiwa siswa. Misalnya adanya pertengkaran antara ayah dan ibu, bisa menjadikan penyebab bagi siswa untuk tidak hadir di sekolah.
  4. Ada kegiatan darurat di rumah. Kegiatan yang sifatnya darurat, lazim memaksa anak untuk turut menyelesaikan sesegera mungkin. Hal demikian, bisa menjadikan penyebab siswa tidak dapat hadir di sekolah.
  5. Adanya keluarga, famili dan atau handai taulan yang pindah rumah. Ini seringkali menjadikan siswa untuk turut serta membantu serta menghadirinya. Tidak jarang, pindah rumah demikian bersamaan dengan hari dan atau jam sekolah. Pindah rumah memang tidak pernah mempertimbangkan aspek siswa sedang bersekolah atau tidak.
  6. Ada kematian. Kematian di dalam keluarga umumnya membawa duka bagi anak. Oleh karena dukanya tersebut, anak kemudian tidak hadir di sekolah.
  7. Letak rumah yang jauh dari sekolah. Hal demikian tidak jarang menjadikan siswa malas untuk hadir ke sekolah. Terkecuali jika ada transportasinya. Sungguhpun demikian, jarang juga ketika sudah ada transportasinya, siswa juga masih tetap tidak hadir di sekolah, karena mungkin waktu itu tidak mempunyai uang ongkos transportasi.
  8. Ada keluarga yang sakit. Pada saat salah seorang anggota keluarga ada yang sakit, tidak jarang siswa dimintai untuk menunggu atau merawatnya, sehingga menjadi penyebab siswa tidak bersekolah.
  9. Baju seragam yang tidak ada lagi. Ini dialami oleh mereka yang secara ekonomi memang lemah. Tidak seragam ke sekolah dikhawatirkan mendapatkan sangsi, umumnya siswa memilih tidak hadir di sekolah.
  10. Kekurangan makanan yang sehat. Ini terjadi pada siswa yang berada di daerah-daerah kantong kemiskinan.
  11. Ikut orang tua berlibur. Hari libur orang tua yang tidak bersamaan dengan hari libur sekolah bisa memberi peluang bagi tidak hadirnya siswa di sekolah. Karena, tidak jarang siswa mengikuti liburan orang tuanya.
  12. Orang tua pindah tempat kerja. Orang tua yang pindah tempat kerja bisa menyebabkan anak tidak hadir di sekolah, oleh karena anak kadang-kadang mengikuti orang tua baik untuk jangka waktu lama maupun untuk jangka waktu tertentu saja.
Upaya pengentasan masalah ketidakhadiran siswa yang bersumber dari faktor keluarga tentu saja sangat membutuhkan peran dan keterlibatan dari keluarga itu sendiri untuk bersama-sama mencari solusi yang terbaik. Namun apabila faktor penyebabnya  diduga dari dalam diri  siswa, maka  layanan konseling perorangan atau bantuan individual tampaknya bisa dijadikan sebagai sebuah pilihan.
Ada teori umum yang bisa dijadikan pegangan bahwa apabila intensitas dan frekuensi ketidakhadiran  siswa di sekolah cenderung  tinggi dan terjadi secara masif, maka bisa diduga faktor penyebabnya adalah lingkungan sekolah, misalnya karena faktor iklim dan budaya sekolah yang kurang kondusif.
Dalam hal ini, yang patut dicermati  adalah tingkat absensi guru.  Dalam beberapa kasus, ditemukan korelasi yang signifikan antara maraknya tingkat absensi guru dengan tingkat absensi siswa. Korelasi ini mungkin sejalan dengan pepatah klasik yang  mengatakan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Guru absen satu kali, siswa absen berkali-kali. Oleh karena itu, untuk mengatasi kasus seperti ini  maka  yang perlu  diperbaiki adalah lingkungan sekolah itu sendiri.   Tindakan represif terhadap siswa tampaknya tidak akan membuahkan hasil yang optimal, bahkan  mungkin  hanya akan meniimbulkan masalah-masalah baru yang semakin rumit.
Sumber:https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/10/17/tentang-kehadiran-dan-ketidakhadiran-siswa-di-sekolah/

pengaruh siswa belajar

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Menurut Slameto (2003) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu faktor intern yang bersumber pada diri siswa dan faktor ekstern yang bersumber dari luar diri siswa. Faktor intern terdiri dari kecerdasan atau intelegensi, perhatian, bakat, minat, motivasi, kematangan, kesiapan dan kelelahan. Sedangkan faktor ekstern terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Mudzakir dan Sutrisno (1997) mengemukakan  faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar secara lebih rinci, yaitu:
  1. Faktor internal (faktor dari dalam diri manusia)
Faktor ini meliputi:
1)     Faktor fisiologi (yang bersifat fisik) yang meliputi:
a)     Karena sakit
b)     Karena kurang sehat
c)      Karena cacat tubuh
2)     Faktor psikologi (faktor yang bersifat rohani)logi meliputi:
a)     Intelegensi
Setiap orang memiliki tingkat IQ yang berbeda-beda. Seseorang yang memiliki IQ 110 - 140 dapat digolongkan cerdas, dan yang memiliki IQ 140 ke atas tergolong jenius. Golongan ini mempunyai potensi untuk dapat menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi. Seseorang yang memiliki IQ kurang dari 90 tergolong lemah mental, mereka inilah yang banyak mengalami kesulitan belajar.
b)     Bakat
Bakat adalah potensi atau kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir. Setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu yang sesuai dengan bakatnya. Apabila seseorang harus mempelajari sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya, ia akan cepat bosan, mudah putus asa dan tidak senang. Hal-hal tersebut akan tampak pada anak suka mengganggu kelas, berbuat gaduh, tidak mau pelajaran sehingga nialinya rendah.
c)      Minat
Tidak adanya minat seorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan bakatnya, tidak sesuai dengan kebutuhanya, tidak sesuai dengan kecakapan dan akan menimbulkan problema pada diri anak. Ada tidaknya minat terhadap suatu pelajaran dapat dilihat dari cara anak mengikuti pelajaran, lengkap tidaknya catatan dan aktif tidaknya dalam proses pembelajaran.
d)     Motivasi
Motivasi sabagai faktor dalam (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari dan mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan, sehimgga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan belajarnya. Seorang yang besar motivasinya akan giat berusaha, tampak gigih, tidak mau menyerah dan giat membaca buku-buku untuk meningkatkan prestasinya. Sebaliknya mereka yang motivasinya lemah, tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatianya tidak tertuju pada pelajaran, suka menggangu kelas dan sering meninggalkan pelajaran. Akibatnya mereka banyak mengalami kesulitan belajar.
e)     Faktor kesehatan mental
Dalam belajar tidak hanya menyangkut segi intelek, tetapi juga menyangkut segi kesehatan mental dan emosional. Hubungan kesehatan mental dengan belajar adalah timbal balik. Kesehatan mental dan ketenangan emosi akan menimbulkan hasil belajar yang baik demikian juga belajar yang selalu sukses akan membawa harga diri seseorang. Bila harga diri tumbuh akan merupakan faktor adanya kesehatan mental. Individu di dalam hidupnya selalu mempunyai kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan, seperti: memperoleh penghargaan, dapat kepercayaan, rasa aman, rasa kemesraan, dan lain-lain. Apabila kebutuhan itu tidak terpenuhi akan membawa masalah-masalah emosional dan akan menimbulkan kesulitan belajar.
  1. Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri seseorang, faktor ini meliputi :
1)     Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Yang termasuk faktor ini antara lain :
a)     Perhatian orang tua
Dalam lingkungan keluarga setiap individu atau siswa memerlukan perhatian orang tua dalam mencapai prestasi belajarnya. Karena perhatian orang tua ini akan menentukan seseorang siswa dapat mencapai prestasi belajar yang tinggi. Perhatian orang tua diwujudkan dalam hal kasih sayang, memberi nasihat-nasihat dan sebagainya.
b)     Keadaan ekonomi orang tua
Keadaan ekonomi keluarga juga mempengaruhi prestasi belajar siswa, kadang kala siswa merasa kurang percaya diri dengan keadaan ekonomi keluarganya. Akan tetapi ada juga siswa yang keadaan ekonominya baik, tetapi prestasi prestasi belajarnya rendah atau sebaliknya siswa yang keadaan ekonominya rendah malah mendapat prestasi belajar yang tinggi.
c)      Hubungan antara anggota keluarga
Dalam keluarga harus terjadi hubungan yang harmonis antar personil yang ada. Dengan adanya hubungan yang harmonis antara anggota keluarga akan mendapat kedamaian, ketenangan dan ketentraman. Hal ini dapat menciptakan kondisi belajar yang baik, sehingga prestasi belajar siswa dapat tercapai dengan baik pula.
2)     Lingkungan sekolah
Yang dimaksud sekolah, antara lain :
a)     Guru
b)     Faktor alat
c)      Kondisi gedung
3)     Faktor mass media dan lingkungan sosial (masyarakat)
a)     Faktor mass media meliputi ; bioskop, tv, surat kabar, majalah, buku-buku komik yang ada di sekeliling kita. Hal-hal itu yang akan menghambat belajar apabila terlalu banyak waktu yang dipergunakan, hingga lupa tugas belajar.
b)     Lingkungan sosial
·        Teman bergaul berpengaruh sangat besar bagi anak-anak. Maka kewajiban orang tua adalah mengawasi dan memberi pengertian untuk mengurangi pergaulan yang dapat memberikan dampak negatif bagi anak tersebut.
·        Lingkungan tetangga dapat memberi motivasi bagi anak untuk belajar apabila terdiri dari pelajar, mahasiswa, dokter. Begitu juga sebaliknya, apabila lingkungan tetangga adalah orang yang tidak sekolah, menganggur, akan sangat berpengaruh bagi anak.
·        Aktivitas dalam masyarakat juga dapat berpengaruh dalam belajar anak. Peran orang tua disini adalah memberikan pengarahan kepada anak agar kegiatan diluar belajar dapat diikuti tanpa melupakan tugas belajarnya.
Kesehatan mental yang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar erat kaitannya dengan religiusitas. Daradjat (Jalaluddin, 2002) menyatakan ada hubungan antara kesehatan mental dan agama. Hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan Yang Maha Tinggi. Sikap pasrah yang serupa itu diduga akan memberi sikap optimis pada diri seseorang sehingga muncul perasaan positif seperti rasa bahagia, rasa senang, puas, sukses, merasa dicintai atau rasa aman (Jalaluddin, 2002).
Religiusitas dan kebermaknaan hidup secara tidak langsung terkait karena hal itu bisa membuat manusia mengetahui sejauh mana mereka bisa menghargai hidup dan memanfaatkan hidupnya dengan berperilaku dan berbuat sesuai dengan ajaran agamanya. Secara tidak langsung agama dapat menjadikan seseorang sadar akan makna hidup dan bagaimana mereka untuk berbuat lebih baik untuk masa depan hidupnya dalam meraih prestasi. Seorang religius adalah individu yang mengerti akan hidup dan kehidupan secara lebih dalam arti lahiriah semata, yang bergerak dari dimensi vertikal kehidupan dan mentransenden hidup ini (Rini Lestari dan Purwati, 2002).
Menurut Rola (2006), terdapat empat faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, yaitu:
a.      Pengaruh keluarga dan kebudayaan
Besarnya kebebasan yang diberikan orang tua kepada anaknya, jenis pekerjaan orang tua dan jumlah serta urutan anak dalam keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan prestasi. Produk-produk kebudayaan pada suatu daerah seperti cerita rakyat, sering mengandung tema prestasi yang bisa meningkatkan semangat.
b.      Peranan konsep diri
Konsep diri merupakan bagaimana individu berpikir tentang dirinya sendiri. Apabila individu percaya bahwa dirinya mampu untuk melakukan sesuatu, maka individu akan termotivasi untuk melakukan hal tersebut sehingga berpengaruh dalam tingkah lakunya.
c.      Pengaruh dari peran jenis kelamin
Prestasi akademik yang tinggi biasanya diidentikkan dengan maskulinitas, sehingga banyak wanita yang belajar tidak maksimal khususnya jika wanita tersebut berada di antara pria. Pada wanita terdapat kecenderungan takut akan kesuksesan yang artinya pada wanita terdapat kekhawatiran bahwa dirinya akan ditolak oleh masyarakat apabila dirinya memperoleh kesuksesan, namun sampai saat ini konsep tersebut masih diperdebatkan.
d.      Pengakuan dari prestasi
Individu akan berusaha bekerja keras jika dirinya merasa diperdulikan oleh orang lain. Di mana prestasi sangat dipengaruhi oleh peran orang tua, keluarga dan dukungan lingkungan tempat di mana individu berada. Individu yang diberi dorongan untuk berprestasi akan lebih realistis dalam mencapai tujuannya.
Jadi, dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar seseorang atau hasil akhir yang dicapai seseorang melalui kegiatan belajar dipengaruhi oleh berbagai hal, yaitu pengaruh dari dalam diri seseorang (internal) dan pengaruh dari luar diri seseorang (eksternal). Adapun yang menjadi faktor internal dalam penelitian ini adalah religiusitas dan konsep diri, sedangkan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah dukungan sosial.


sumber: http://jalurilmu.blogspot.com/2011/10/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html#ixzz4W8us2zHz

pengaruh hp bagi pelajar

Faktor penyebab penyalahgunaan HP di kalangan pelajar


Tak bisa dipungkiri bahwa handphone memang punya beragam manfaat, tak hanya bagi orang kantoran atau orang dewasa lainnya, tapi juga bagi para pelajar. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, telepon genggam terbut di salah gunakan para pelajar karena beberapa faktor yaitu :
1.   Kemajuan teknologi
Kemajuan teknologi yang cukup canggih merupakan penyebab utama para pelajar menyalah gunakan telefon genggam, misalnya telepon genggam yang memiliki fitur kamera, internet, dan bluetooth yang memudahkan pengguna telepon genggam untuk menyimpan dan bertukar data-data yang tidak sepatutnya untuk disimpan. Fitur internet pada handphone memang bisa memberikan pengaruh baik, tapi bila tidak digunakan secara bijak, hal ini bisa saja malah menurunkan prestasi belajar siswa. Kemudahan siswa untuk bisa memperoleh info apa saja, bisa membuat siswa terlena oleh dunia maya. Apalagi saat ini banyak beredar jejaring sosial, hal ini bisa membuat siswa lebih suka menghabiskan waktu untuk mengutak-atik telepon genggam daripada belajar.
  1. Orang Tua
Para orang tua itu merasa bangga bisa memenuhi segala kebutuhan dan permintaan anaknya tanpa mereka memperhatikan dampak yang akan timbul dari apa yang mereka para orang tua berikan pada anak. Itulah ungkapan kasih sayang orang tua yang mungkin cara penyampaiannya kurang tepat, memberikan alat komunikasi seperti telepon genggam kepada anak, sesungguhnya bukan hal yang salah, karena dengan telepon genggam tersebut, mungkin orang tua berharap komunikasi dengan sang anak lebih mudah dan lancar, akan tetapi, hal tersebut menjadi boomerang ketika ternyata telepon genggam tersebut disalahgunakan oleh anak untuk hal-hal yang negatif seperti menyimpan foto-foto ataupun video porno dan juga di gunakan sebagai alat yang memperlancar komunikasi dengan lawan jenis untuk hal-hal yang kurang bermanfaat seperti pacaran, sehingga dengan telepon genggam tersebut berdampak negatif pada anak khususnya remaja seperti terjadinya pergaulan bebas, seks di luar nikah dan menurunnya prestasi belajar bahkan juga bisa terjadi anak mengambil uang ataupun barang berharga milik orang tuanya tanpa izin hanya untuk membeli pulsa.
  1. Pengaruh Teman
Bisa dilihat dalam kehidupan seorang Pelajar akan lebih bergantung pada teman-teman mereka daripada orangtua mareka sendiri. Mereka memuaskan kebutuhan pertemanan dan rasa berharga dengan dengan sahabat-sahabat mereka. Jadi selain karena  kemajuan teknologi yang canggih faktor pengaruh teman juga merupakan penyebab telepon genggam di salah guakan, biasanya teman akan menawari sesuatu hal yang kurang baik, contohnya seperti gambar atau video yang tidak senonoh, selain itu juga biasanya teman akan menelepon atau SMS sehingga mereka keasyikan dan lupa untuk belajar.
  1. Lingkungan
Lingkungan adalah segala yang terdapat di sekitar mahkluk hidup, baik yang bersifat biotik dan abiotik yang selalu berinteraksi secara timbal balik. Didalam sekolah pelajar tumbuh dan berkembang serta memperoleh pendidikan secara bertahap hingga membentuk pribadi yang dewasa. Bila seorang pelajar berada di lingkungan yang orang-orangnya memanfaatkan telepon genggenm dengan tidak baik makan pelajar yang menggunakan telepon genggam tersebut juga pasti akan terpengaruh dan menggunakan telepon genggamnya untuk hal-hal yang tidak baik juga.

Sumber:https://bayusyp.wordpress.com/2011/12/17/faktor-penyebab-penyalahgunaan-hp-di-kalangan-pelajar/

penyebab menyontek

Faktor – faktor Penyebab siswa menyontek saat melaksanakan ujian dan ulangan



a. Tekanan yang terlalu besar yang diberikan kepada “hasil studi” berupa angka dan nilai yang diperoleh siswa dalam test formatif atau sumatif
b. Pendidikan moral baik di rumah maupun di sekolah kurang diterapkan dalam kehidupan siswa
c. Sikap malas yang terukir dalam diri siswa sehingga ketinggalan dalam menguasai mata pelajaran dan kurang bertanggung jawab
d. Anak remaja lebih sering menyontek dari pada anak SD, karena masa remaja bagi mereka penting sekali memiliki banyak teman dan populer di kalangan teman- teman sekelasnya
e. Kurang mengerti arti dari pendidikan

semoga bermanfaat informasi dari saya !!!!!

Sumber:https://id-id.facebook.com/notes/zona_remaja/faktor-faktor-penyebab-siswa-menyontek-saat-melaksanakan-ujian-dan-ulangan/223954117668464/

Penyebab siswa enggan bertanya???

Mengapa Siswa Enggan Bertanya

Mengapa siswa enggan bertanya - Artikel ini terdiri atas dua bagian dan akan dipublikasikan secara berseri. Pada bagian pertama ini akan dibahasmengapa siswa enggan bertanya

Ya, fakta ini bukan jarang melainkan sering terjadi. Guru bertanya siswa bungkam seribu bahasa. Hal yang lumrah dalam dunia pendidikan kita. Begitu menurut Uda.

Pembahasan ini tidak didasari metode keilmuan dan teori-teori pendidikan. Namun lebih banyak berlandaskan metode emperis dan praktis di lapangan. 

Tujuannya adalah supaya lebih sesuai dengan fakta dan kebenaran yang terjadi di lapangan. Selain itu kita dapat lebih leluasa untuk saling berbagi pengalaman menyangkut topik yang satu ini. 
Sampai detik ini, uda belum pernah mendengar ada guru yang pintar mengajar. Untuk sementara boleh dikatakan, tidak ada guru yang pintar mengajar. Sebab, yang dihadapi guru bukan komputer, bukan mesin, robot dan benda mati. 

Guru berhadapan dan berkomunikasi dengan manusia dinamis dalam sebuah ruangan: siswa. Mereka juga bukan orang pintar.  Melainkan individu yang sedang membutuhkan bimbingan dan pengajaran, atas segala sikap dan perilaku mereka yang kadang-kadang menyebalkan.

mengapa,siswa,bertanya
Uda pernah mendapat prediket guru teladan tingkat kabupaten beberapa tahun silam. Itu bukan karena uda pintar mengajar. Tidak sama sekali. Hanya kebetulan memiliki nilai tertinggi dari kawan-kawan lain dalam hal ujian tertulis, wawancara dan presentasi karya ilmiah.

Di ruang kelas, kembali menghadapi berbagai persoalan pembelajaran. Tidak salah kiranya jika ada orang bilang, hasil penataran dan pelatihan guru itu nol. Maksudnya bukan tidak ada sama sekali, melainkan tidak banyak menolong guru dalam mengatasi masalah pembelajaran. 

Atau bisa juga, guru tidak menerapkan ilmu yang didapat melalui penataran dan pelatihan itu di sekolah masing-masing.

Salah satu masalah pembelajaran yang sesuai topik pembahasan kita  adalah: siswa seringenggan bertanya maupun menjawab pertanyaan yang dilontarkan guru! Ketika diajukan pertanyaan disela-sela menerangkan pelajaran, siswa hanya diam. 

Kalau disuruh bertanya malah kebingungan. Mengapa demikian? Ada beberapa penyebab yang teridentifikasi mengapa siswa enggan bertanya. Namun secara global dapat dikelompokkan menjadi 3 penyebab utama:

1.Cara guru bertanya

Sering guru bertanya seenaknya ketika sedang mengajar.  Siswa menjadi bingung mau menjawab apa. Pertanyaan guru datangnya mendadak, membuat siswa terkejut dan meningkat adrenalinnya. 

Kalimat yang digunakan guru tidak dimengerti oleh siswa. Nada dan intonasi guru tidak tepat saat mengajukan pertanyaan. Masih banyak hal lain yang berkait dengan cara guru bertanya.

2.Sikap guru dalam mengajar

Sikap guru yang cenderung otoriter dalam mengajar sering berdampak psikologis yang rumit terhadap siswa. Siswa akhirnya berprinsip lebih baik banyak diam daripada berbicara. Mereka jadi takut salah menjawab pertanyaan guru.

3.Budaya mencemooh di kelas

Ini adalah budaya siswa yang sulit dikikis habis dari diri siswa. Jika ada siswa bertanya maka temanya sering mentertawakan. Jika mau menjawab pertanyaan guru dan kebetulan salah jawabannya dicemooh oleh teman lain dengan mengeluarkan suara koor mencemooh, misalnya.
Cukup sekian dulu poin penting penyebab mengapa siswa enggan bertanya maupun menjawab pertanyaan. Uda yakin benar, sahabat pengunjung punya pengalaman tersendiri tentang topic yang sedang dibahas ini. 

Baik sebagai murid, guru maupun sebagai orang tua siswa. Dipersilahkan untuk mencurahkannnya lewat form komentar di bawah ini. Terima kasih
Sumber:http://www.matrapendidikan.com/2014/02/mengapa-siswa-enggan-bertanya.html

Jumat, 13 Januari 2017

Malas belajar

FAKTOR PELAJAR MALAS BELAJAR
Belajar adalah kegiatan yang harus dilakukan bagi semua pelajar khususnya bagi para murid-murid. akan tetapi bagi sebagian pelajar kegiatan ini sangatlah membuat bosan bagi pelajar zaman sekarang. Apalagi zaman sekarang ada acara "GALAU". dan hal demikian salah satu membuat malas belajar. Malas pada anak dalam hal Psikologis wujud melemahnya kondisi mental, Intelektual, Fisik, dan Psikis anak. Dan malas belajar ada beberapa faktor yang berhubungan dengan malasnya belajar yaitu :

1. Dari dalam diri sendiri bagi Pelajar (INTRINSIK)
Rasa malas yang menimbulkan diri dalam anak atau pelajar tersebut disebabkan karena kurang atau tidak adanya motivasi diri sendiri yang membuat anak giat belajar. Motivasi ini dikarenakan belum tumbuhnya mengetahui manfaat dari belajar atau belum ada sesuatu yang ingin dicapainya atau keinginannya. Kelelahan beraktifitas dapat mengakibatkan menurunnya semangat belajar bagi pelajar.

2. Faktor yang memengaruhi dari luar (Ekstrinsik)
Faktor yang mempengaruhi dari luar anak sangatlah penting dari pelajar.
Hal yang mempengaruhi faktor tersebut adalah : Sikap Orangtua, Sikap Teman, Sikap Guru, Kurangnya fasilitas belajar dirumah, Sarana Belajar.


Selain itu ada juga faktor yang mempengaruhi belajar yaitu :

Pacaran
Pacaran bagi sebagian pelajar adalah hal yang sangat menyenangkan, dan pada zaman sekarang pacaran adalah hal yang yang Trend, apalagi sekarang ada alat yang canggih seperti HP (Hand Phone) dan jejaring sosial. Dan sehingga para pelajar bisa berkomunikasi sekapanpun yang kita bisa. Dan hal tersebut yang berhubungan dengan pembelajaran adalah pelajar yang suka pacaran biasanya mengabaikan pekerjaan rumahnya, tugas dari ibu guru di sekolah dibanding dengan pacarnya. padahal pacar tidak menuntun dimasa depan kita.

Perkembangan zaman yang sangat pesat
Seiring dengan perkembangan zaman para pelajar suka bermain game dibanding dengan belajar. dan sering memboroskan waktunya demi bermain game online.

Terlalu bergantung pada teman
Seorang pelajar bisa malas belajar karena punya teman yang lebih pintar darinya, sehingga dia suka mengandalkan anak tersebut.

Sumber:http://siswa-belajaronline.blogspot.co.id/2013/07/faktor-penyebab-malas-belajar-bagi.html