“Sekolah Dasar melatih anak menjadi entrepreneur muda” “Sekolah dengan basis pengembangan kepribadian dan entrepreneurship” Ketertarikan lembaga pendidikan tradisional yang hanya berlomba-lomba meningkatkan prestasi akademik anak perlahan mulai luntur. Banyaknya kasus anak yang stress dengan tekanan nilai, membuat orang tua mulai paham bahwa nilai tak menjadi faktor utama kesuksesan dan kebahagiaan anak. Karena itulah value entrepreneurship mulai banyak dilirik para orang tua yang ingin anaknya menjadi lebih kreatif serta inovatif. Berangkat dari fenomena “Kecil-kecil sudah sukses” kisah seorang anak yang sudah sukses meraup banyak keuntungan di usianya yang masih muda. Hal tersebut tak lepas dari panggilan yang sedang marak akhir-akhir ini. “Entrepreneur” Karena itu mulai banyak sekolah yang menyisipkan value “entrepreneurship” sebagai nilai tambah dari pendidikan sekolah tersebut. Sekolah-sekolah mulai berbondong-bondong menyisipkan mata pelajaran entrepreneurship, melatih anaknya untuk berjualan, mengadakan business day, dan lain-lain. Akan tetapi banyak dari mereka belum mengetahui apa itu esensi “entrepreneurship” yang sebenarnya. Menurut Morris (2013) entrepreneurship adalah proses mengenal, mengevaluasi dan memanfaatkan kesempatan yang ada didekatnya. karena itu seorang siswa bukan hanya harus pintar berjualan, akan tetapi mereka juga harus diajarkan apa itu mental”entrepreneur” yang bukan hanya dapat diaplikasikan saat membuka bisnis, akan tetapi juga dapat diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari ketika ia ingin mencapai impiannya. Seorang siswa belajar dan menirukan sesuatu tak jauh-jauh dari peran seorang guru. Jika guru melakukan sesuatu, tentu hal tersebut akan menjadi panutan bagi siswa-siswanya. seperti peribahasa guru kencing berdiri, murid kencing berlari, apa yang guru lakukan baik hal tersebut terpuji atau tidak, seorang murid pasti akan mengambil pelajaran darinya dan mengaplikasikannya pada perbuatannya sendiri. Oleh karena itu, kompetensi entrepreneurship harus juga diaplikasikan pada tenaga pengajar yang akan secara langsung berhadapan dengan calon-calon entrepreneur masa depan tersebut. “Kompetensi entrepreneurship” mengapa penting untuk dimengerti para guru ? jelas agar guru juga mempunyai value yang sama seperti yang ingin diajarkan pada anak-anaknya. Selain itu, menjadi guru yang mempunyai kompetensi entrepreneurship tidak harus mempunyai bisnis besar-besaran yang sukses. Guru tersebut paling tidak harus bisa mempunyai semangat entrepreneur dan mengerti betul apa itu aplikasi entrepreneurial. Dengan begitu guru akan dapat lebih baik mengajarkan hal tersebut pada anak-anaknya. Maka dari itu, diperlukan suatu program “sebelum mengajar” untuk melatih para guru mengenai hal-hal entrepreneurial tersebut. Program ini dibutuhkan agar guru tidak langsung lepas mengajar anak-anak mengenai hal yang belum ia mengerti sepenuhnya. Program ini juga berfungsi untuk meratakan pengetahuan seluruh guru mengenai konsep-konsep entrepreneur. Bukan hanya guru entrepreneurship saja yang ikut, guru semua mata pelajaran juga diharapkan ikut agar dapat mengaplikasikan ilmu ini ke seluruh mata pelajaran yang mereka ajarkan. Pembelajaran tidak akan menggairahkan jika tidak ada tantangan. Selain diberi ilmu, setelah itu guru bisa ditantang untuk membuat program bersifat entrepreneurial menurut masing-masing metode dari mereka. Program yang mereka buat tersebut bisa dibuat semenarik mungkin agar bisa diaplikasikan ke anak-anak yang diajar. Program terbaik, akan dinilai dan pemenangnya akan mendapatkan reward yang selama ini ditunggu-tunggu oleh para guru. Hal ini merupakan salah satu teknik opportunity finding untuk melahirkan bibit entrepreneur baru dalam diri para guru. Program ini dapat meningkatkan kepercayaan diri dan semangat juang para guru. Karena hakikatnya yang butuh aktualisasi diri dan reward bukan hanya murid. Guru dan murid harus berjuang bersama-sama, karena proses belajar itu penting bagi semua orang. Tujuannya ? untuk lebih sukses dan bahagia tentunya.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/amelindaayu/tanam-ilmu-bukan-hanya-pada-murid-guru-juga-perlu_5668616c999373740a12b912

Tidak ada komentar:
Posting Komentar