Jumat, 09 September 2016

kegagalan sekolah

KEGAGALAN SEKOLAH
Sekolah, serangkaian kegiatan wajib untuk anak-anak. kurang lebih 1/3 waktu anak-anak selama sehari diisi di sekolah, hal ini menjadikan sekolah sebagai sebuah simulasi permasyarakatan. Ya, di sekolah anak-anak harus beradaptasi dan berinteraksi dengan anak-anak lainnya yang berasal dari latar belakang serta dididik oleh cara yang berbeda. Dan dari sekolah anak-anak sudah dididik dengan berbagai macam kemampuan dasar (Pelajaran maupun non-pelajaran resmi)
Namun, saya menemukan beberapa hal yang membuktikan sekolah (dan kurikulum) gagal dalam mendidik anak-anak, seperti.

1. Murid-murid tidak fokus
Mungkin cara mengajar gurunya kurang asik, namun yang saya lebih tekankan disini adalah jumlah murid yang terlalu banyak dalam satu kelas. Menurut saya, jumlah murid perkelas yang berjumlah 35-45 orang terlalu banyak, melebihi ketentuan fokus anak-anak yang idealnya hanya 1:20, 1:25 maksimal. Jika jumlah muridnya semakin banyak, kelas semakin berisik, posisi duduk makin kebelakang yang mengakibatkan murid yang duduk dibelakang menjadi sama sekali tidak fokus. Dibelakang sana apalagi mojok, guru sering kali kehilangan kontrol kelas karena tidak diketahui sedang apakah dibelakang sana. Mungkin makan? main game? main hape? baca komik? atau tidur? Sekolah disini mengalami kegagalan sebagai berikut
2. Penjurusan yang terlalu dini
Indonesia memiliki satu sistem pendidikan yang amat jarang ditemukan di negara lain apalagi Asia, yaitu penjurusan di SMA. Pada saat kelas 2 SMA, murid sudah terkena penjurusan ke 3 macam kelas. Yaitu, IPA, IPS, dan Bahasa. Sistem seperti ini berpotensi besar menghilangkan kesempatan seseorang, permasalahannya kelas 1 SMA adalah masa yang amat Vital. Dipenuhi kesibukan dan adaptasi yang menyusahkan, hal ini menyebabkan kesusahan pada masa 1 SMA. Jadi namanya tidak fair jika penjurusan sudah ditentukan sejak 2 SMA. Menghilangkan kesempatan banyak orang seperti teman saya yang satu ini, impiannya masuk ke Fakultas Ilmu Komputer gagal karena dia tidak masuk IPA (Waktu kelas 1 SMA, teman saya ini mengalami kesulitan. Maka dia masuk IPS walau nilai2nya sebenarnya baik) Jadi, penjurusan seperti ini seharusnya hanya bisa dilakukan saat kuliah. Bukan saat SMA
3. Ujian yang terlalu bergantung pada nilai
Sistem pendidikan di Indonesia terlalu mementingkan nilai belaka. Sebenarnya saya malas membicarakan tentang ujian semacam ini yang saya alami di pertengahan tahun ini (UN), karena sudah banyak orang yang membicarakannya. Namun saya ungkit kembali sebagai contoh ujian yang hanya mementingkan nilai belaka, standarnya setiap tahun “disesuaikan” tanpa mengecek ulang kualitas pendidikan saat ini. Mereka menganggap bahwa nilai yang baik adalah tanda baiknya kualitas pendidikan di Indonesia. Padahal, nilai seperti itu bisa dengan mudah dimanipulasi. Berkaca dari Finlandia (?), negara yang standar pendidikannya salah satu terbaik. Disana tidak ada standar nilai, karena mereka dididik untuk maksimalisasi, bukan standarisasi. Jadi tidak bisa hanya berdasarkan itu saja

4. Kurangnya pengoptimalisasian Otak
Disini, yang menjadi standar dalam raport, ujian, dan kenaikan kelas. Adalah pelajaran-pelajaran akademis khususnya eksak, nilai-nilai non-eksak seperti Agama, Seni Rupa, Seni Musik, Komputer, dsb. Dan nilai-nilai kerajinan dan kelakuan pun hanya ditaruh di Raport, bukan sebagai penentuan akhir. Bayangkan, apakah lebih baik meluluskan orang yang pintar tapi berkelakuan buruk atau orang yang biasa saja? Serta ada pula kasus begini, seorang murid yang telah mengharumkan bangsanya di bidang Seni tidak lulus UN. Padahal Otak Kanannya (?) berkembang amat pesat, namun tidak lulus karena sistem pendidikan sekarang tidak mengoptimalkan fungsi otak yang kanan (?)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar